Rasa itu hitam. pekat. kelam.
Rasa itu berasal dari masa lalu.
Rasa itu mampu membangkitkannya dari kematian serta mematirasakan perasaannya kepada orang lain. Rasa itu bagai pedang bermata dua. Di satu sisi rasa itu mampu menajamkan perasaannya. Namun disisi lain, rasa itu semakin menggerogoti tubuhnya yang telah rapuh. Ia tetap bertahan, walau di setiap langkahnya rasa sakit itu semakin menusuk. Dan kini, seiring dengan waktu ia mulai terbiasa membawa pedang itu kemanapun ia pergi, dengan menyembunyikan rasa sakitnya dibalik seuntai senyuman dan sorot matanya yang tajam namun hampa.
“Semua akan baik-baik saja” Itu yang selalu ia ucapkan. Ia mencoba berdalih dengan mangatakan bahwa rasa yang telah bersemayam di dalam dirinya selama bertahun-tahun itu telah mampu ia kendalikan. Namun ia salah. Rasa itulah yang justru mengendalikan tubuh dan pikirannya. Ia tak mampu lagi melihat warna-warni indahnya dunia yang begitu mempesona. Ia berusaha untuk mengatakan kepada pikirannya sendiri, bahwa tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Namun semua itu sia-sia. Rasa itu telah membelenggunya. Ia melihat segalanya semu, maya, dan tak abadi. Dan pengalamannya dalam hidup justru semakin menguatkan proksi pemikirannya sendiri. Ia tak mampu mempercayai apapun dan siapapun. Hanya dengan kekuatan-Nya ia tetap hidup. Dengan-Nya, ia berpegang teguh. Berharap hanya dengan sekali hembusan nafas yang panjang, rasa itu akan hilang dan tidak menghantui kehidupannya lagi. Entah sampai kapan.
hug her tonight, God.
a’bee




Akhirnya, saya sudah melewati 3 minggu yang penuh dengan berbagai macam kejadian di tempat magang saya sekarang.